Suluk Malang Sungsang, Konflik Penyimpangan Ajaran Syeikh Siti Jenar

suluk malang sungsang syeikh siti jenarSyekh Siti Jenar itu tokoh yang kontroversial, saya pernah membaca buku selain karangan Agus Sunyoto, seperti Achmad Khojim dan A. Munir Mulkan mereka membahas obyek yang sama tapi dari sudut yang berbeda, tentu saja perbedaan tersebut dari nara sumber yang berbeda.

Aku sekarang mencoba meresensi buku tentang Syeikh Siti Jenar karangan Agus Sunyoto. Buku karangan Agus Sunyoto ini terdiri dari seri satu sampai dengan seri tujuh. Suluk Malang Sungsang adalah seri pamungkas.

Agar bisa diikuti runut, maka saku coba ringkaskan trilogi pertama (Buku satu dan dua) dengan detail mengisahkan perjalanan yang ditempuh seorang salik – Abdul Jalil alias Syaikh Siti Jenar untuk mencapai maqam yang lebih tinggi, yakni menjadi orang yang dekat dengan Nya. Dalam buku satu dan dua tersebut diceritakan betapa berat perjalanan yang harus ditempuh Syaikh Siti Jenar untuk mencapai maqam tertinggi itu. Ia harus melewati tujuh Lembah Kasal, tujuh Jurang Futur, tujuh Gurun Malal, tujuh Gunung Riya, dan tujuh Rimba Sum’ah, tujuh Samudera ‘Ujub dan tujuh Benteng Hajbun.

Trilogi kedua yang dikemas dalam buku ketiga, empat dan lima yang berjudul : Sang Pembaharu: Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar, juga bergelar Syaikh Lemah Abang. Gagasan utama dari ke tiga buku ini adalah upaya Syaikh Lemah Abang untuk membangkitkan kesadaran di dalam diri rakyat jelata bahwa mereka bukanlah budak dari penguasa. Mereka adalah diri yang merdeka. Diri yang bisa melampaui tingkatan – hewan – manusia hewan – adi manusia . “Sejak manusia lahir ke dunia fana ini, tiap-tiap pribadi memiliki fitrah keagungan dan kemuliaan sebagai mahluk paling sempurna yang disebut insan kamil atau adi manusia. Kalian semua diciptakan oleh Allah dengan maksud dijadikan wakil-Nya di muka bumi (Khalifah Allah fil Ardh),” (Sang Pembaharu, buku lima, hal. 81).

Di dalam trilogi ke dua itu kita juga bisa melihat bagaimana Syekh Siti Jenar merombak sistem raja-kawula atau gusti-kawula menjadi sistem kemasyarakatan yang ia sebut sebagai masyarakat ummah, yang terdiri atas kabilah sebagai satuan terkecil, kemudian nagari. Berdasarkan masyarakat ummah ini, penentuan pemimpin masing-masing tingkatan itu tidak didasarkan atas keturunan, akan tetapi dipilih oleh sahabat-sahabat yang mengasihinya. Ukuran seorang pemimpin adalah memiliki derajat ruhani lebih tinggi dibandingkan manusia lainnya. Ia haruslah orang yang mempunyai keterikatan paling rendah terhadap kebendaan dan pengumbaran nafsu. Sistem kemasyarakatan ini sebenarnya diadopsi dari sistem kemasyarakatan Nabi Muhammad SAW.

Dari sini kita bisa paham mengapa Syeikh Siti Jenar kemudian dimusuhi banyak fihak. Yang jelas, dengan gagasan Syeikh Siti Jenar ini, para raja, bangsawan merasa terancam kedudukannya, pengaruh kekuasaan mereka otomatis berkurang. Lalu, para pejabat dibawah raja hingga para kepala desa kehilangan sumber pendapatan mereka dari sewa tanah yang tadinya merupakan satu paket dengan konsep gusti-kawula. Sebab, sistem masyarakat baru yang dikembangkan Syeikh Siti Jenar tidak mengenal sewa tanah. Setiap warga berhak memiliki harta benda, termasuk sebidang tanah.

Adapun trilogi ketiga (buku ke enam dan ke tujuh) yang berjudul Suluk Malang Sungsang : Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syeikh Siti Jenar, berisi tentang jawaban atas berbagai teka-teki dan juga misteri yang menyelimuti tokoh agung Syeikh Siti Jenar. Sesuai dengan judulnya, di dalam buku ke enam dan terutama buku ke tujuh, kita akan melihat bagaimana orang-orang tidak senang dan menaruh dendam kepada Syekh Siti Jenar melakukan penjungkir balikan terhdap ajaran-ajaran yang selama ini didakwahkan oleh Sang Syeikh. Dua tokoh yang mengaku sebagai Syeikh Siti jenar, yakni Hasan Ali dan gurunya, San Ali Anshar, mengajarkan jalan ruhani (suluk) yang justru merusak tatanan yang telah dibangun oleh Syekh Siti Jenar. Bahkan tindakan mereka telah banyak menyesatkan umat manusia. Oleh karena itu, ajaran Hasan Ali dan San Ali Anshar ini kemudian dijuluki sebagai “Suluk Malang Sungsang”, ajaran perjalanan ruhani (tarekat) yang mengakibatkan salik (pencari kebenaran) semakin terhijab (tertutup) dan terjungkir kiblatnya dari kebenaran sejati yang dituju.

Pada buku ke tujuh ini, kita juga akan menemukan jawaban tentang akhir perjalanan hidup Syekh Siti Jenar. Buku ke tujuh ini sekaligus menjawab tentang kesimpang siuran informasi tentang kematian Syekh Siti Jenar. Informasi yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar dibunuh oleh Dewan Walisongo di Masjid Demak terbukti tidaklah benar. Justru Hasan Ali dan San Ali Anshar – dua tokoh yang mengaku sebagai Syekh Siti Jenar, yang menyebarkan ajaran sesat itulah yang dibunuh.

Pada bab makna rahasia di balik nafs dijelaskan tentang tingkatan nafs lengkap dengan penggambaran idiomatic sebagai padanan, dijelaskan tentangi nafs alkhaiwaniyah, nafs ammarah, nafs lawammah, nafs mulhalmah, nafs muthmainah, nafs raddhiyyah, nafs mardhiyyah, nafs kamilah dan terakhir nafs insan kamil. Agus Sunyoto menggambarkan term-term tasawuf dengan gamblang, sehingga pembaca bisa menikmati seperti membaca cerita fisksi.

Dengan hadirnya buku ke tujuh ini, maka menurut penerbitnya seri Siti Jenar sudah lengkap. Dan, dengan demikian, terjawablah sudah seluruh teka-teki dan misteri yang menyelimuti tokoh Agung Syekh Siti Jenar, mulai dari asal-usul, perjuangan, ajaran ruhani hingga akhir dari perjalanan hidupnya.

Pada bedah buku 10 Januari 2005 di Perpustakaan Nasional di Jalan Jendral Sudirman, dan pertengahan tahun 2007 yang kedua-duanya aku sempat hadir, pengarangnya Agus Sunyoto menyatakan bahwa tidak akan terbit serial berikutnya alias sudah tamat riwayatnya, jadi bagi yang sudah mengkoleksi ke tiga trilogi itu tak perlu lagi untuk menunggu serial lanjutannya.

Salam,
Ferry Djajaprana
http://ferrydjajaprana.multiply.com

Keterangan Detail:

Judul Buku : Suluk Malang Sungsang, Konflik Penyimpangan Ajaran Syeikh Siti Jenar
Pengarang : Agus Sunyoto
Cetakan/Tahun : Pertama, 2005
Penerbit : Pustaka Sastra, Kelompok Penerbit LKIS, Yogyakarta
Halaman : XII + 658 halama; 12 x 18 cm
Di resensi oleh : Ferry Djajaprana

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: